Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 15 April 2012

CONTOH MAKALAH B.INDONESIA



                                                                                                BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Akhir-akhir ini banyak dilaporkan di media cetak maupun elektronik, sejak terjadinya eksplosi ulat bulu di daerah Probolinggo pada bulan Oktober/November 2011, serangan ulat bulu meluas ke 12 provinsi, yang terkini adalah Kalimantan Timur. Jenis ulat bulu yang dilaporkan berbeda-beda dari satu daerah dengan daerah lainnya.
Ulat bulu sebenarnya bukan hama utama pada tanaman budidaya. Hama ini umumnya memakan dedaunan dari berbagai jenis pohon, tumbuhan merambat, semak belukar, dan dalam beberapa kasus menyerang beberapa tanaman semusim, tetapi belum ada indikasi menyerang padi dan jagung. Ulat bulu akan menyebar ke mana-mana, bahkan ke pemukiman penduduk, apabila inangnya habis atau mencari tempat berlindung dari sengatan matahari. Hal inilah yang meresahkan penduduk karena ulat bulu dapat menyebabkan reaksi gatal, sehingga mereka berusaha membasmi ulat bulu dengan berbagai cara, baik konvensional maupun dengan insektisida. Permasalahannya, seberapa efektifkah cara pengendalian dengan insektisida tersebut dan apakah cara tersebut menguntungkan secara ekonomi?
Ulat bulu tergolong kelas Insekta, ordo Lepidoptera, dan famili Lymantriidae. Famili Lymantriidae sebanyak lebih-kurang 350 genus dan lebih dari 2.500 spesies. Daerah sebarannya sangat luas, meliputi lima benua, sebagian besar berada di Afrika Utara, India, Asia Tenggara, dan Amerika Selatan (Wikipedia, 2011). Ada beragam species ulat bulu di Indonesia, dilihat dari morfologi ulat dan tumbuhan yang diserangnya. Nama spesies ulat-ulat bulu tersebut sedang diidentifikasi di berbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Beberapa pakar menduga bahwa minimal ada empat spesies ulat bulu yang terdapat di Indonesia, antara lain: Arctornis submarginata, Dasychira inclusa, Euproctis flexuosa, dan Lymantria marginalis (Gambar 1).
Ulat bulu, sesuai dengan namanya, memiliki ciri fisik yang khas, yakni rambut-rambut pada bagian dorsal (punggung) di sepanjang tubuhnya. Rambut-rambut tersebut sering menyatu membentuk berkas di beberapa bagian tubuh. Umumnya, pada bagian dorsal, ada 4 buah berkas rambut sekunder berwarna terang yang tebal dan dua kelenjar berwarna pada abdomen (perut) ruas ke-6 dan 7.
Pada banyak spesies, rambut-rambut mudah rontok dan menimbulkan reaksi gatal apabila tersentuh kulit manusia. Ulat bulu memiliki kenampakan khusus berupa bulu-bulu tegak yang berselang-seling, lebih tebal, dan menonjol. Ulat bulu memiliki rambut-rambut halus yang sering tersembunyi di antara rambut-rambut yang lebih panjang. Rambut-rambut inilah yang dapat mengakibatkan reaksi gatal jika tersentuh kulit (Wikipedia, 2011). Jadi, tidak semua rambut-rambut pada ulat bulu dapat mengakibatkan reaksi gatal. Oleh karena itu, wajarlah kalau ada
yang mengatakan, ulat bulu tidak mengakibatkan rasa gatal karena dia tidak tersentuh rambut-rambut halus tadi.







1.2  Permasalahan

Dari latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan beberapa masalah, antara   lain :
1.      Apakah penyebab dari pesatnya perkembangbiakan ulat bulu?
2.      Apakah dampak dari pesatnya perkembangbiakan ulat bulu?
3.      Bagaimana cara membasmi perkembangbiakan ulat bulu?

1.3  Tujuan

Makalah ini disusun dengan tujuan sebagai berikut :
1.      Mengetahui hal-hal yang menyebabkan hama ulat bulu.
2.      Mengetahui dampak negative dari perkembang biakan hama ulat bulu di lingkungan masyarakat.
3.      Megetahui cara membasmi atau menanggulangi hama ulat bulu.


1.4 Manfaat

1.      Manfaat Teoretis.

Secara teoretis, makalah ini bermanfaat untuk mengetahui dan memahami hal- hal apa saja yang menyebabkan hama ulat bulu, dampak negative dari ulat bulu di lingkungan masyarakat, dan mengetahui berbagai cara untuk membasmi hama ulat bulu.

2.      Manfaat Praktis

Secara praktis, makalah ini bermafaat bagi pembaca untuk ikut serta dalam memperbaiki keseimbangan lingkungan dengan melakukan berbagai hal sehingga dapat mengurangi  hama ulat bulu yang berakibat buruk bagi di lingkungan masyarakat. Bagi guru, dengan mengetahui dan memahami penyebab terjadinya hama ulat bulu, maka guru dapat mengajak siswa untuk ikut berpartisipasi dalam memperbaiki keseimbangan lingkungan sejak dini.






BAB II
                                                  PEMBAHASAN

2.1    HAMA ULAT BULU, PENYEBAB,DAMPAK, DAN SOLUSINYA


MELUASNYA serangan hama ulat bulu mencemaskan banyak pihak. Sebelumnya, hama ulat bulu ini mengganggu ketenangan penduduk di Probolinggo, Jawa Timur. Berbagai upaya untuk membasminya sudah dilakukan. Kemudian, di beberapa daerah muncul ulat sejenis. Wilayah Jakarta dan Medan pun sudah dimasuki.
Serangan ulat bulu ini pada dasarnya merupakan sebuah fenomena alam yang dipicu oleh perubahan habitat ulat bulu. Ulat bulu merupakan kelompok famili Lymantriidae (Lepidoptera = kupu-kupu) yang mempunyai sifat polifagus (pemakan segala daun) dan bersifat defoliator (merampas semua daun). Secara alamiah kelompok ulat bulu Lymantriidae tersebar di kawasan hutan tropis dataran rendah dan berada di kanopi (pucuk). Di Indonesia terdapat sekitar 300 jenis ulat bulu dan di Jawa sekitar 144 jenis.
Ahli entomologi dari LIPI Dr. Hari Sutrisno menyebut dua faktor utama penyebab serangan ulat bulu (Lymantriidae), yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik dipicu oleh perubahan habitat sebagai akibat berkurangnya/rusaknya hutan dataran rendah (<1000 m dpl). Hal ini menyebabkan ulat bulu masuk ke kawasan pertanian monokultur di Probolinggo, seperti mangga, duren, rambutan dan jambu mete yang merupakan inangnya ulat lymantridae.
Selain perubahan habitat, kenaikan suhu akibat peningkatan kadar CO2 juga terbukti memicu serangan hama fitofagus/pemakan daun. Kejadian ini pernah terjadi pada Paleocene-eocene thermal maximum (P-ETM), kejadian pemanasan global 55 juta tahun yang lalu. Kenaikan CO2 akan menyebabkan fotosintesa berlangsung cepat, sehingga tanaman membuat makanan untuk dirinya tanpa menyimpan banyak protein pada daun. Konsekuensinya, ketika CO2 banyak tersedia maka daun memiliki jumlah protein yang sedikit, sehingga untuk memenuhi kebutuhannya serangga harus makan banyak daun.
Konsekuensinya pertumbuhan daun yang cepat juga diiringi dengan tingginya kerusakan daun oleh serangga hama. Secara teori, kerugian yang diakibatkan oleh serangga pemakan daun ini tidak akan vatal atau mematikan tanaman kecuali terjadi infeksi sekunder.
Faktor biotik disebabkan oleh berkurangnya musuh alami ulat bulu pada tingkat telur, ulat, kepompong, atau dewasa. Predator dari fase dewasa ulat bulu berupa ngengat (kupu malam) pada malam hari adalah kelelawar insektivor (pemakan serangga), namun populasinya menurun akibat penambangan batu kapur. Semut rang-rang yang sangat potensial sebagai predator ulat sudah sangat jarang, karena dieksploitasi sebagai pakan burung peliharaan. Burung pemakan serangga (burung jalak) sudah jarang sekali. Sedangkan penggunaan pestisida yang intensif di daerah kawasan pertanian diduga merupakan salah satu penyebab menurunnya parasit telur, larva dan pupa serta entomopatogen lainnya (bakteri, jamur dan virus).
Ada beberapa penyebab lain yang menyebabkan antara lain :
A.    Perubahan iklim
Perubahan iklim terutama temperatur lingkungan ikut mempengaruhi populasi ulat  bulu, karena temperatur yang meningkat dapat mempercepat siklus hidup ulat itu, kata pakar hama dan penyakit tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Suputa. "Meningkatnya populasi ulat bulu juga disebabkan semakin berkurangnya musuh alami, seperti burung, parasitoid, dan predator lain," katanya dalam diskusi Fenomena Wabah Hama Ulat Bulu di Jawa Timur, di Yogyakarta, Kamis. Oleh karena itu, pengendalian terhadap populasi ulat menjadi langkah yang harus segera dilakukan. Terlebih kemampuan produksi telur ulat betina mencapai 70-300 butir per ulat. "Pengendalian hama terpadu dengan pendayagunaan musuh alami, burung, parasitoid, perangkap lampu UV, dan penggunaan perangkap feromon seks perlu dilakukan
.
B.     Perubahan Ekosistem
Perubahan ekosistem itu telah menyebabkan hilangnya keseimbangan alami untuk sementara waktu. “Sebagai suatu sistem, alam juga memiliki komponen-komponen yang menciptakan keseimbangan. Saat salah satu komponen mengalami gangguan, keseimbangan itu akan terganggu. Begitu juga dengan yang terjadi dengan famili Limantriidae (ulat bulu) saat ini,” papar Haryono.
Fenomena meningkatnya populasi ulat bulu, faktor hayatinya disebabkan berkurangnya pemangsa alaminya, seperti burung, kelelawar, dan semut rangrang, dan musuh alaminya, misalnya parasitoid. Berkurangnya pemangsa alami dan peningkatan ulat bulu juga dipengaruhi unsur non hayati. Perubahan iklim global menjadi faktor utama. Akibat adanya perubahan iklim, terjadi perubahan suhu dan kelembaban udara. Semua makhluk hidup punya kemampuan adaptasi terhadap perubahan alam yang terjadi.
C.    Berkurangnya Pemangsa Alaminya
Berkurangnya pemangsa alami dan peningkatan ulat bulu juga dipengaruhi   unsur non hayati. Perubahan iklim global menjadi faktor utama. Akibat adanya perubahan iklim, terjadi perubahan suhu dan kelembaban udara. “Semua makhluk hidup punya kemampuan adaptasi terhadap perubahan alam yang terjadi.”
“Perubahan suhu dan kelembaban udara bisa saja mengakibatkan pemangsa alami ulat bulu berkurang, sebaliknya ulat bulunya meningkat..


2.2    Penanganan Ulat Bulu

Pada dasarnya, ulat bulu tidak berbahaya, kecuali pada beberapa orang yang mempunyai alergi. Kepala Dinas Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta menambahkan dampak ulat bulu pada manusia sebenarnya ringan dan minimal hanya berupa gatal-gatal di kulit. Untuk mencegahnya, disarankan menghindari kontak langsung dengan ulat bulu, mencuci tangan, menutup makanan dan minuman, dan langsung segera kontak ke puskesmas dan fasilitas kesehatan terdekat bila gangguan menjadi parah.
Untuk menekan penyebaran ulat bulu, ahli entomologi Hari Sutrisno menyarankan beberapa langkah pencegahan jangka pendek seperti perbaikan sanitasi lingkungan (pupasi terjadi di tempat-tempat yang banyak serasah, sampah, tumpukan kayu, dan lain-lain), pemberantasan ulat, larva, kepompong secara mekanik dengan cara menguburnya, pengumpulan larva ke dalam tabung untuk mendapatkan parasitnya kemudian melepaskan kembali ke alam, menggunakan perangkap lampu (merkuri) untuk menangkap ngengatnya dan selanjutnya dimatikan, serta menggunakan larva dan pupa yang mati akibat entomopatogen untuk dibuat larutan dan disemprotkan untuk pengendalian atau mengitroduksi entomopatogen hasil biakan dari laboratorium.
Langkah pencegahan lainnya dengan dimensi waktu yang lebih panjang, yakni memberikan pendidikan dini kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam. Dengan mengetahui dan memahami penyebab dan solusi penanganannya, masyarakat diharapkan tidak panik dan tidak resah menghadapi hama ulat bulu ini.
Upaya pengendalian ngengat bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya pertumbuhan ngengat dalam jumlah besar pada fase kehidupan selanjutnya. Mengembangbiakkan parasitoid juga bisa mencegah ledakan populasi ulat bulu pada siklus kehidupan selanjutnya


Masyarakat dapat membantu perkembangan parasitoid ulat bulu ini. Caranya, dengan mengumpulkan ulat bulu ke dalam botol plastik air mineral yang berisi daun dan menutupnya dengan kain kasa. Selama beberapa hari ulat bulu akan berubah menjadi kepompong. Jika kepompong berubah menjadi ngengat maka serangga tersebut harus dimusnahkan. Namun jika kepompong mengeluarkan sejenis lebah kecil maka serangga tersebut harus dilepaskan karena berfungsi sebagai parasitoid bagi ulat bulu .

Pemberantasan menggunakan pestisida juga bisa dilakukan. Pestisida yang digunakan sebaiknya mengandung bahan aktif bakteri Bacillus thuringiensis yang aman terhadap lingkungan karena hanya mematikan ulat namun tidak mempengaruhi musuh alaminya. Penyemprotan dilakukan terhadap daun saat ulat masih berukuran kecil. "Insektisida yang disemprotkan akan menempel pada daun dan akan termakan oleh ulat." Bakteri yang tertelan akan mengeluarkan racun dalam saluran pencernaan ulat sehingga menyebabkan kematian pada ulat .


2.3    DAMPAK TERJADINYA HAMA ULAT BULU

Ulat bulu memakan berbagai tanaman yang akan mengakibatkan tanaman mati. Jika ini terus berlangsung akan mengakibatkan kelangkaan bahan pangan. Walaupun dampak ini tidak langsung dirasakan namun dengan meluasnya wabah ulat ini sangat dicemaskan akan merusak tanaman para petani dan membuat panenpun gagal. Bukti nyata wabah ini meluas hingga kedaerah lainnya. Walaupun pada akhirnya ulat-ulat itu akan berubah menjadi kepompong dan kemudian menjadi kupu-kupu namun bukan tidak mungkin kupu-kupu itu akan bertelur ditempat yang sama. Hal ini akan menambah populasi ulat karena satu kupu-kupu dapat bertelur mencapai 20 telur. Jumlah ulat yang awalnya ribuan menjadi jutaan.

Dampak adanya ulat bulu antara lain :
a. Memasuki rumah penduduk .
b. Mengakibatkan gatal-gatal di kulit .
c. Merusak tanaman penduduk .


                                     






                                                                  










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar